Senin, 22 November 2010

Penyelesaian Kasus TKI Harus Komprehensif

Pemerintah harus memberikan penyelesaian komprehensif untuk memberikan perlindungan kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Presiden harus turun tangan untuk memberikan perlindungan melalui hubungan kenegaraan.

Kegerahan anggota DPR atas kasus TKI di Arab Saudi meluap dalam Rapat Paripurna DPR RI Pembukaan Masa Persidangan II Tahun Sidang 2010-2011. Anggota DPR menghujani rapat paripurna dengan interupsi penyelesaian masalah TKI. Mereka menilai bahwa penyiksaan TKI merupakan kejahatan di luar batas kemanusiaan.

Anggota DPR Budi Suprianto mengeluhkan pemerintah tidak memiliki penyelesaian komprehensif atas kasus penyiksaan terhadap TKI. Ia menyatakan perlindungan terhadap PKI masih rendah.

Ia menyatakan rentannya perlindungan TKI membuktikan kegagalan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia. Menurutnya DPR perlu melakukan teguran keras atas kelalaian perlindungan ini.

Anggota DPR Rieke Dyah Pitaloka mengungkapkan angka penyiksaan TKI pada tahun 2010 mencapai 4.282 kasus. Tingginya angka ini menunjukkan rendahnya pemerintah melakukan perlindungan kepada TKI. apalagi belum ada regulasi untuk mengimplementasikan perlindungan TKI di luar negeri.

Anggota DPR Akbar Faisal mengritik pemerintah tidak memiliki penyelesaian komperhensif. apalagi dengan ide pemberian telepon genggam. Menurutnya pemerintah harus menyelesaikan problem fundamental bagi TKI, yakni perbaikan pelatihan.

Terpisah, Wakil Ketua DPD La Ode Ida juga mengeluhkan sikap pemerintah yang lamban menyelesaikan perlindungan TKI. Ia menegaskan korban kekerasan terhadap TKI adalah masyarakat dari daerah.

Menurutnya pemerintah harus sensitif mendengar keluhan masyarakat daerah. Apalagi kekerasan ini terjadi di luar negeri. Jumlah TKI mencapai ribuan, artinya ada ratusan ribu orang resah atas nasib keluarganya.

Selain daripada itu pemerintah juga harus memberikan bimbingan kepada setiap TKI akan bekerja di luar negeri. Dan juga memberikan perlindungan bagi mereka yang bekerja di luar negeri supaya benar-benar terjamin bekerja disana oleh pemerintah Indonesia yang ada di luar negeri. Tujuannya agar supaya tidak ada lagi korban-korban TKI yang menderita akibat ulah majikan luar negeri yang amat kejam.

Jujur, Perempuan Suka yang Jujur

Ada sedikit gambaran bahwa kejujuran merupakan sesuatu yang gampang-gampang susah untuk diwujudkan, tetapi sangat didambakan oleh perempuan. Kejujuran dituntut oleh perempuan tidak hanya dari pasangannya. Bahkan, kejujuran di semua aspek termasuk dalam merespons produk atau layanan yang ditawarkan di pasaran. Ya, honesty atau kejujuran dimaknai agak berbeda antara perempuan dan laki-laki. Bagi perempuan, kejujuran adalah nyaris segalanya. Perempuan akan marah besar jika tahu bahwa mereka ditipu.

Perempuan dengan sisi femininnya cenderung untuk berkomunikasi dengan lebih menggunakan kasih sayang, keakraban, dan kepercayaan yang lebih besar daripada laki-laki yang maskulin. Dengan kata lain, perempuan lebih banyak berkomunikasi dan memprioritaskan komunikasi daripada laki-laki. Sisi maskulin yang dimiliki laki-laki mendorong mereka lebih memilih berteman dengan laki-laki lainnya karena adanya kepentingan umum. Sementara, perempuan dengan sisi femininnya membangun pertemanan di antara kaumnya karena adanya rasa saling mendukung. Konteks ini sangat penting ketika menentukan bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain dan penting untuk memahami “skenario” apa yang tepat untuk digunakan dalam setiap hubungan.

Dalam suatu sesi diskusi mengenai respons perempuan terhadap merek produk-produk yang dikhususkan untuk mereka, ada temuan yang cukup menarik dan menunjukkan bahwa aspek kejujuran adalah segalanya bagi perempuan. Sekelompok perempuan ditanya mengenai preferensi merek tertentu dan ternyata yang mereka pilih adalah merek suatu produk yang dikomunikasikan secara jujur dan menyentuh sisi humanisme mereka. Nilai kejujuran bahkan berada dalam posisi lima besar setelah aspek lain (misalnya, finansial dan kecantikan).

Bagaimana menciptakan komunikasi yang jujur dengan perempuan? Pertanyaan ini seringkali hinggap di benak produsen manakala mereka melihat potensi yang besar di kalangan segmen ini tetapi masih ragu-ragu melangkah karena khawatir produknya tidak diterima oleh perempuan. Perempuan merespons berbagai penawaran produk yang ditujukan untuk mereka secara beragam. Tetapi, ditemukan suatu “benang merah” bahwa produk yang jujur menyuarakan hati nurani perempuan akan diterima lebih baik.

Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/11/23/08194121/Jujur..Perempuan.Suka.yang.Jujur